Rabu, 17 Maret 2010

ANALISIS PROFIL MADRASAH TSANAWIYAH


ANALISIS PROFIL MADRASAH TSANAWIYAH

A. Pendahuluan

Di dalam dunia pendidikan Islam, pendidikan Islam dari tahun ke tahun telah mengalami perkembangan yang cukup pesat banyaknya lembaga pendidikan Islam yang didirikan dengan visi, misi dan tujuan yang berbeda antara lembaga yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, apakah selama ini antara tujuan dan output sudah sesuai ? inilah yang menjadi pertanyaan. Salah satu sekolah berbasis Islam adalah MTs NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus. Sekolah ini juga mempunyai visi, misi beserta tujuan. Di sini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai sejarah, visi, misi dan tujuan umum MTs NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus.

B. Pembahasan

Madrasah Tsanawiyah NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus terletak di Desa Jekulo Kecamatan Jekulo Kabupaten kudus. Letaknya di tepi jalan raya yang menghubungkan antara Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Pati.

Sejarah berdirinya Madrasah Tsanawiyah NU Wahid Salafiyah jekulo kudus tidak terlepas dari jasa Bapak K.H. Hambali Siraj, yaitu perintis sekaligus pendiri dari Madrasah Tsanawiyah NU Wahid Salafiyah Jekulo Kudus. Melalui jasa panitia pendiri atau perintis yang dimotori beliau dan beberapa orang pembantu, diantaranya mereka adalah K.H. Ishaq Hambali, K.H. Rahmat (keduanya adalah putra beliau). Kiranya perlu dicatat bahwa pada waktu itu di wilayah jekulo, belum ada satupun Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang membuka atau melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar pada pagi hari. Dengan berdirinya lembaga pendidikan di lingkungan Salafiyah Jekulo, hal ini dapat di atasi dengan melaksanakan proses belajar mengajar pada pagi hari.

Beberapa tahun kemudian MI Salafiyah Jekulo Kudus, baru memetik hasil, yaitu setelah banyak murid yang berhasil lulus, di mana sebagian besar dari para alumni yang kemudian melanjutkan atau meneruskan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah, Aliyah, dan pondok pesantren di luar Kota Kudus, seperti Pati, Rembang, Jombang, dan lain sebagainya. Para alumni inilah yang setelah lulus dan menamatkan pendidikannya, kemudian kembali ke daerah masing-masing, antara lain di Desa Tambak (Jekulo), Klaling, Hadipolo, Sadang, Honggosoco dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya MI yang didirikan oleh Bapak KH.Hambali Siraj tersebut tidak terlepas dari pasang surut, bahkan hampir mengalami stagnasi sejak kondisi kesehatan beliau mulai berkurang sampai kemudian beliau wafat.

Untung keadaan tersebut tidak berlangsung lama, karena kedua anak beliau (Bapak KH. Ishaq Hambali dan Bapak K.H. Ma’shum Rosyidie) segera tanggap untuk mengambil alih dan memberkan solusi atas permasalahan yang muncul.

Madrasah Tsanawiyah NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus didirikan pada tanggal 3 juni 1979. Setelah berhasil melaksanakan rekruitmen tenaga pengajar dan berbagai kesiapan sarana dan prasarana, maka segera dilakukan pendaftaran murid baru. Dengan dibukanya Madrasah Tsanawiyah NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus yang baru ini tanggapan dan dukungan yang positif dari masyarakat tercatat begitu besar, khususnya masyarakat di Kecamatan Jekulo, terbukti banyak putra-putri mereka dimasukkan di Madrasah Tsanawiyah NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo ini, dan sejak itu dapat dimulai proses belajar mengajar sampai saat ini.

C. Visi dan Misi

1. Visi

Unggul dalam prestasi, santun dalam budi pekerti

2. Misi

a. Memfasilitasi siswa-siswa dalam mengembangkan dirinya di IPTEk dan IMTAQ

b. Mencetak lulusan yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang cukup dan sanggup menghadapi tantangan zaman

c. Mengikuti even-even dalam meningkatkan prestasi ditingkat Kabupaten dan Provinsi

d. Menanamkan Islam Aswaja dalam kehidupan sehari-hari

3. Tujuan

a. Memudahkan siswa-siswi dalam mengembangkan kurikulym dalam bidang pengetahuan, seni dan olah raga

b. Meluluskan siswa-siswi yang mampu menghadapi tantangan zaman

c. Meraih prestasi yang terbaik ditingkat Kebupaten dan Provinsi

d. Mengamalkan Islam Aswaja dengan baik dan benar.

D. Kurikulum

Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktifitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi, serta proses pendidikan. Kurikulum dalam sistem persekolahan merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Kurikulum yang baik harus selalu berubah dari waktu ke aktu sesuai dengan perkembangan zaman, dan sejak tahun 2004-2005 pemerintah telah menetapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai kurikulum yang berlaku di Indonesia. Saat Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ditetapkan oleh pemerintah sebagai alternatif kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, yang diberlakukan mulai tahun ajaran 2004-2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi sendiri dikembangkan dengan tujuan untuk membekali peserta didik dalam menghadapi tantangan hidupnya di masa depan yang cenderung semakin komplek secara lebih mandiri, cerdas, rasional dan kritis.

Bila dilihat dari berbagai sisi, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi kurikulum yang memenuhi kesempurnaan secara konseptual. Namun berdasarkan penelitian di lapangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menemukan berbagai kendala, terkait dengan pelaksanaannya. Sehingga perlu perangkat khusus yang mengatur secara teknis dan detail tentang pelaksanannya tersebut. Di mana perangkat tersebut disusun berdasarkan pada kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Maka dibentuklah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam menjembatani hal itu. Akhirnya melalui Undang-undang Republik Indonesia, Nomor: 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22, 23, dan 24 tahun 2006 mengamanatkan setiap satuan pendidikan untuk membuat KTSP sebagai pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagaimana dimaksud adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Sehingga kurikulum ini sangat beragam. Bisa bekembang masing-masing sebagaimana bidang studi dan mata pelajaran yang ada, sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi. Bagaiamanapun juga pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam ini tetap mengacu pada standar nasional pendidikan. Di mana standar nasional pendidikan itu sendiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dan dua dari delapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalamm mengembangkan kurikulum.

Dengan demikian peserta diri diharapkan memiliki beberapa kompetensi yakni: Pertama, kompetensi tamatan yaitu kompetensi tamatan yang harus dicapai ketika siswa tamat dari suatu jenjang pendidikan. Kedua, kompetensi umum mata pelajaran yaitu kompetensi yang harus dicapai siswa ketika menyelesaikan suatu mata pelajaran tertentu. Ketiga, kompetensi dasar yaitu ukuran minimal atau memadai yang ditetapkan dengan kemampuan, keterampilan, sikap dan peirlaku dasar dalam menguasai materi pokok dan pencapaian hasil belajar.

Adapun kurikulum yang digunakan di MTs NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih familiar dengan guru. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kooperatif di mana KTSP merupakan kurikulum operasional yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan serta merupakan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan.

E. Analisis

Melihat adanya visi dan misi yang ada di MTs NU Wahid Hasyim Salafiyah Jekulo Kudus ketika dikaitkan dengan kurikulum saat sekarang, yaitu KTSP bahwa terjadi pembelajaran yang masih menggunakan metode secara monoton. Hal ini perlu adanya perubahan dalam memanfaatkan metode mengajar.

Permasalahan yang sering dialami oleh siswa adalah kebosanan, seperti mengantuk, berbicara dengan teman, membuat gaduh dan sebagainya. Kebosanan itu terjadi apabila guru melakukan aktivitas secara berulang-ulang tanpa adanya variasi. Kebosanan siswa dalam belajar merupakan permasalahan yang serius dalam dunia pendidikan, sebab apabila kebosanan tersebut muncul, maka efektifitas efisien kegiatan belajar akan sulit tercapai secara optimal.

Mengajar adalah kegiatan kompleks yang memerlukan sejumlah variasi metode mengajar agar siswa mempunyai minat dalam belajarnya sehingga tujuan belajar dapat tercapai, sebaliknya bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk, akibatnya tujuan belajar tidak tercapai.

Dengan variasi metode mengajar yang dilakukan oleh guru akan memperoleh beberapa tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam proses belajar mengajar, diantaranya adalah menarik perhatian siswa untuk lebih giat belajar baik di sekolah maupun di rumah dan untuk menumbuhkan rasa minat siswa terhadap pelajaran, guru, bahkan sekolah tempat belajar mereka.

Dalam suatu proses belajar, dua unsur yang sangat penting, yaitu metode mengajar dan media pembelajaran, kedua aspek ini saling berkaitan, pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan siswa menguasai setelah pelajaran berlangsung. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagaia alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

Guru harus bisa menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Masalah lain yang sering dihadapi adalah kurangnya perhatian guru terhadap penggunaan media pembelajaran dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik, padahal media pembelajaran merupakan salah satu dari lima komponen pendidikan yang memiliki peran strategis dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Selain merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran pada khususnya.

Pemakaian media dalam proses belajar mengajar dapat mengakibatkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar, penggunaan media pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu, disamping membangkitkan motivasi siswa dan minat siswa juga dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa, sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Dalam berinteraksi guru yang baik adalah guru yang menunaikan tugasnya dengan baik atau dapat bertindak sebagai tenaga pengajar yang efektif, dan mampu menggunakan berbagai bentuk tekhnik mengajar sehingga siswa mendapatkan pengajaran tersebut akan timbul perhatian, minat dan keaktifan belajar, terutama dalam hal ini belajar pendidikan agama Islam.

Pendidikan agama Islam merupakan rumpun mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam, karena itulah pendidikan agama Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.

F. Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan, atau tepat dalam kurikulum perlu adanya metode mengajar yang bervariasi, karena tanpa adanya metode yang bervariasi hal ini akan membuat siswa menjadi bosan, jenuh dan lain sebagainya. Seperti belajar Al-Qur'an Hadist, guru tidak hanya menggunakan metode hafalan, tetapi beloh menggunakan metode yang lain seperti metode tanya jawab, metode cerita dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar